Sabtu, 31 Agustus 2013

Cerpen Karya Asma Nadia - Mengayam Kesabaran

"Kriiinnnggg!" Jam wekker di samping kepalaku berbunyi nyaring. Reflek kugerakkan tanganku memencet tombolnya. Hmmm, jam 4.45. Kulihat Aa sudah tidak ada di sampingku, aku bergerak menyalakan heater dan bergerak menuju ruang sebelah. Di sana kulihat Aa tertidur dengan pulasnya. Dengan jaket tebal dan sarungnya. Posisinya melingkar membuat tubuh Aa yang jangkung tampak mengecil. Aku tersenyum. Rupanya Aa shalat malam tanpa membangunkan aku.Terlihat terjemahan Al quran yg masih terbuka di samping kepala Aa. Kututup perlahan terjemahan itu. Kuberjongkok di samping tubuh Aa, tersenyum memandangi wajah Aa yang terlihat damai sekali. "A..Aa..!" Kuguncang-guncang bahu Aa pelan. Aa menggeliat sebentar. Tapi seakan tidak peduli malah membalikkan posisi tubuhnya membelakangiku. Kuulang hal yang sama. Aa belum mau bangun juga. Kalau sudah begini, cuma ada satu cara yang ampuh. Usapan air! Aku bergegas menuju dapur dan memutar kran lalu mencuci tanganku. Siraman air dingin membuat sel-sel sarafku bereaksi seketika. Rasa kantuk yang masih tersisa lenyap dibuatnya. Kuusapkan tanganku yang dingin pada wajah Aa. Suamiku terbangun seketika dan menatapku dengan wajah bangun tidurnya yang lucu. "Assalamu'alaikum! Sudah mau jam 5..."kataku memandang Aa sambil menahan tawa. Aa bangkit dari tidurnya. "Hmm..,"gumamnya masih ogah-ogahan. "Dede wudhu dulu..awas jangan ketiduran lagi!"ancamku sambil beranjak ke kamar mandi.

Subuh itu seperti biasa kami selesai shalat berjamaah kami lewati dengan tilawah Al Quran dan doa Matsurat. Dan seperti biasanya tilawah Aa lebih panjang dari pada lama tilawahku. Aku beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan mencuci pakaian. Ketika aku memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci, ku dengar suara Aa. "De..! Sudah nggak papa perutnya..? Katanya mulas habis dari Rumah sakit kemarin.." "Nggak, udah nggak papa, kok, "sahutku.

Kemarin memang hari di mana aku harus pergi ke ahli kandungan untuk memeriksakan diri secara rutin tiap bulan. Sebelum memasukkan alat itu ke dalam tubuhku, dokter wanita yang ramah itu mengingatkanku, bahwa pengobatan seperti ini memang menyakitkan. Jadi aku bisa menolaknya kalau tidak tahan. Tapi kupikir-pikir toh sama saja sakit sekarang atau nanti. Maka kubilang pada dokter tersebut. "iie. Daijoubu desu. Yatte kudasai, onegaishimasu.(tidak apa-apa. Tolong laksanakan saja...)" Dokter Abe tertawa. "Gaman site, ne...(bersabar ya, kalau sakit..)" Dan benar saja. Perutku terasa diperas-peras, kepalaku gelap. Aku hampir terjatuh ketika bangkit dari tempat tidur. "Sebentar akan saya telfonkan taksi untuk mengantar anda pulang ke rumah!" Kata dokter Abe bergegas keluar. Aku berterimakasih padanya sambil menahan rasa mual yang tidak dapat kuceritakan rasanya. 
Sampai di rumah aku tak kuat bangun lagi. Sehabis Ashar aku tak sempat lagi membuat makan malam buat Aa. Ketika Aa pulang, dan mendapatkanku sedang tidur Aa sendiri yang memasak makan malam. Alhamdulillah, Aa memang mengerti keadaanku, walaupun sebenarnya tidak mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Tapi beliau tidak marah karena tidak ditemuinya makan malam di meja makan, malah beliau berinisiatif sendiri untuk memasaknya. Ya Allah terimakasih karena telah Kau berikan seorang suami seperti Aa, kataku bersyuku dalam hati. 
"Hei! Kok, bengong !" Aa mencolek bahuku. Aku terkejut, agak malu tertangkap basah dalam keadaan bengong. "Masak apa, De..? Mi goreng sajalah ya. Kan mi goreng buatan Aa jaminan mutu.." Aa bergerak menuju wastafel dapur dan mulai membuka-buka kulkas. Aku mengangguk saja. Mi goreng adalah masakan kebisaan Aa. Dan harus diakui kadang-kadang rasanya jauh lebih enak dari buatanku. Pagi itu kami sarapan pagi dengan mi goreng dan sup miso ala Aa. Sedap karena Aa menambah rasanya dengan keikhlasan... Dan seperti biasa kami berpisah di dekat stasiun. Aku ke kiri menuju kampusku yang telah berdiri di sana, sedang Aa ke kanan, ke arah stasiun karena Aa harus ke kampus dengan kereta listrik. "Nggak papa, De..? Kuat kuliah..?"tanya Aa lagi sebelum berpisah. "Insya Allah nggak papa...Lagian cuma sebentar hari ini, seminar saja. Kan giliran Dede yang harus presentasi.."jawabku berusaha menghilangkan kekhawatiran Aa. "Yah, sudah kalau nggak papa. Hati-hati, ya..Assalamu'alaikum!" Aku mencium tangan Aa dan membalas salamnya. Kutunggu sampai tubuh jangkung Aa hilang di pintu stasiun.

Aku dan Aa berselisih dua tahun. Kami menikah ketika aku tahun ketiga, dan Aa sedang dalam proses menyelesaikan skripsinya. Kami berada di fakultas yang sama, FMIPA, walau berbeda jurusan. Aku kimia, sedang Aa fisika. Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa kami, dengan memberikan cinta dan kasih sayangNya pada hati-hati kami. Walau kami tidak berpacaran seperti yang biasa dilakukan orang-orang pada umunya, ternyata kami bisa cocok dan saling memahami hingga usia perkawinan kami menjelang tahun ke enam sekarang, tak ada percecokan yang sampai mengguncang bahtera yang kami layari. Kalaupun ada mungkin keinginan kami untuk mempunyai anak.Tidak, itu tak pernah mengguncangkan bahtera. Bahkan boleh dibilang memperkuat ikatan tali hati kami. Ketika setelah dua tahun menikah Allah belum juga mempercayakan amanah itu pada kami, aku sendiri masih tenang-tenang saja. Aku memang tidak mempunyai siklus bulanan yang teratur sebagaimana wanita normal. Tetapi melihat keturunan dari ibu dan bapak, keluargaku termasuk"subur". Demikian pula Aa. Sampai akhir nya Aa pergi belajar ke Jepang ditugaskan lembaga yang selama ini memberi Aa beasiswa, dan aku menyusulnya satu tahun kemudian untuk menemani Aa setelah skripsiku yang sedikit berlarut-larut karena aku harus membagi waktuku sebagai seorang istri dan mahasiswi, selesai disidangkan.

Atas keinginanku yang disetujui oleh Aa, akhirnya kami berdua berkonsultasi pada dokter ahli kandungan yangsekarang ini. Kebetulan dan alhamdulillah sekali beliau perempuan.. Dan setelah diteliti, ternyata benar dugaanku. Aa normal, akulah yang sakit. Sehingga sejak satu setengah tahun lalu aku berobat secara intensif. Walaupun belum tampak hasilnya hingga kini. Namun atas dorongan semangat Aa, aku bisa terus sabar berusaha hingga kini. Dan aku tahu, Aa juga menunjangnya dengan doa-doa di sujudnya yang lama setelah shalat, sebagaimana yang juga aku lakukan. ****

Kesepian menunggu datangnya amanah itu bukannya tak pernah kami rasakan, khususnya aku. Tanpa aku katakan pada Aa apa yang aku rasakan, Aa seakan mengerti. Sehingga ketika hari tahun ajaran baru universitas dimulai, Aa menyarankan agar aku melanjutkan sekolah saja. Di rumah sendiri bukannya tak ada pekerjaan. Pekerjaan menterjemahkan secara bebas artikel-artikel bahasa Inggris dan kukirim ke redaksi-redaksi majalah, adalah pekerjaan yang sudah kumulai sejak aku masuk universitas. Lalu kursus Bahasa Arab gratis dengan beberapa teman, ibu-ibu dari Mesir seminggu sekali. Dan pelajaran bahasa Jepang secara autodidak yang aku lakukan melalui TV dan majalah berbahasa Inggris-Jepang. Belum lagi pekerjaan rumah tangga, yang walaupun sebagian besar serba otomatis tetapi membutuhkan kesabaran untuk melawan kebosanan itu, juga menunggu. Tetapi waktuku yang banyak sendirian di rumah kadang-kadang membuat aku tak kuat melawan sepi. Dan Aa mengerti benar kecenderunganku tersebut.

Dan akhirnya aku memilih masuk fakultas pendidikan, dan mengambil spesialisai psikologi pendidikan. Karena aku melihat Jepang mapan dalam pendidikan dasarnya. Sedari dulu aku tergelitik untuk mengetahui "resep"nya. Tanpa pikir dua kali aku menyambut saran Aa. Dan jadilah setahun yang lalu aku mahasiswi graduate di universitas yang sama dengan tempat Aa sekarang. Walaupun satu universitas tempat kami berjauhan. Dan kami memutuskan untuk pindah ke tempat yang sekarang.

Hari-hari hanya berdua saja dengan Aa dari sisi lain kurasakan juga sebagai anugerah Allah pada kami. Karena belum disibukkan oleh anak, membuat aku lebih punya banyak waktu memperhatikan Aa, berdiskusi banyak hal dengan Aa, dan lain-lain yang kurasakan sangat mendekatkan aku dengan Aa. Jalan-jalan pagi atau sore sepanjang sungai kerap kami lakukan. Dan ketika kami bertemu dengan pasangan suami istri yang berjalan-jalan bersama buah hati mereka, tanpa sadar mata-mata kami memandang pada si kecil yang yang memandangiku dengan lucunya. Dan seperti biasa, kalau tidak aku atau Aa akan berguman. "lucunya.." "A, nanti anak kita lucu atau nggak, ya..?" Atau: "De, mudah-mudahan anak kita juga lucunya kayak gitu.."Yang kuaminkan dalam diam. Dan biasanya kami akan saling memandang dan tersenyum bersama. Walau bagaimanapun kami merindukan kehadiran amanah itu, ya Allah..

Dan tibalah keajaiban itu, tepat empat bulan setelah itu, hawa dingin sisa-sisa musim dingin masih tertinggal. Bulan Februari akhir, beberapa hari sebelum Ramadhan. Aku menemui Dokter Abe seperti biasa. Kali ini sambil membawa buku catatan suhuku yang kuukur setiap hari. Ada debar-debar harap karena kulihat grafik suhu tersebut tidak menurun. Tapi aku tak mau terlalu berharap. Karena takut kecewa yang berlebihan, jika bukan berita baik yang kudapat. Dan dengan perasaan sedikit tak tenang kutunggu hasil pemeriksaan urine. Dan kudengar namaku dipanggil. "Aya-san!" Kudapati dokter Abe dengan ekpresi ramah seperti biasa. "Duduklah,"katanya. Aku duduk dihadapannya sambil harap-harap cemas. Dan.."Omedetou gozaimasu..!(selamat..)" aku mendengar kata-kata itu dengan kelegaan yang luar biasa, tetapi juga diiringi dengan tangis haruku yang naik ke kerongkongan."Positif..,"kata dokter Abe melanjutkan. Alhamdulillah, Alhamdulillahrabbil'alamin..Subhanallah...Ya Allah, Maha Besar Engkau yang telah mengabulkan permintaan dan usaha hamba-hambaNya. Aku bertasbih dan bertahmid dalam hati, air mata bahagia yang kurasakan hangat keluar tanpa mampu kutahan lagi. Dokter Abe memandangku dengan senyumnya, dan aku tahu dimatanya yang tersembunyi oleh kacamata itu ku dapati juga kaca-kaca. "Domou arigatou gozaimasu.."kataku berterimakasih padaNya. Dia menggeleng. "Bukan saya yang membuatnya demikian, tetapi Kamisama(Tuhan) lah yang memberikannya. Bukan begitu Aya-san?" Aku mengangguk. Alhamdulillah, Segala puji bagi Engkau...

Sesampainya di rumah, aku seperti mempunyai tambahan energi baru. Aku masak soto ayam kesukaan Aa, kali ini tanpa pelit dengan daun sereh dan daun jeruk, biar sedikit istimewa. Juga acar, sambel kecap, serta perkedel jagung. Ketika dering telpon berbunyi, aku segera berlari mengangkatnya. Pasti itu Aa. Benar saja...Sehabis menjawab salam Aa, tanpa memberi kesempatan Aa berbicara aku berkata:"A, cepet pulang!..."

Dan hari-hari selanjutnya kurasakan lebih bergairah lagi. Walau janin di perutku baru dua bulan, tapi aku yakin dia sudah merasakan apa yang aku rasakan. Buku-buku tentang pendidikan janin dalam rahim, cara merawat bayi,sampai majalah tentang permasalahan bayi, yang dulu sempat kuletakkan jauh-jauh dari penglijatanku kupindahkan dekat rak buku-buku kuliahku. Uang tabungan yang kusisihkan dari uang belanja kubelikan walkman. Juga tak lupa aku rajin menggaris-garis buku pedoman pendidikan anak dalam Islam dan kuingat-ingat bagian yang pentingnya. Kini hari-hari ku tak pernah kulewatkan tanpa walkman yang memutar ayat-ayat Al-quran. Juga hari-hari di rumah aku lewatkan dengan "mengobrol" dengan janinku. Sampai Aa iri, karena aku bisa merasakan kehadiransi kecil lewat tubuhku, sedang Aa tidak. Alhamdulillah, aku tidak banyak mengidam dan merasakan mual. Padahal aku khawatir juga, karena sampai sekarang aku masih kuliah seperti biasa. Hanya saja waktu membacaku kuhabiskan sebagian besar di rumah, bukan di perpustakaan seperti biasanya. Karena di rumah aku lebih punya waktu dan lebih bebas "bicara" dengan si kecil.

Sampai saat itu...
Kali itu pemeriksaan kandunganku yang keenam. Menurut hitungan dia sudah 10 pekan usianya. Hari itu kuajak Aa juga. Karena kata Dokter Abe kandungan ku mungkin sudah bisa dideteksi oleh USG, maka beliau mengundang Aa juga untuk ikut menyaksikannya. Akan tetapi, takdir Allah menentukan lain... "Aya -san, terakhir memeriksakan kandungan tiga minggu yang lalu, ya..?" Dokter Abe bertanya memastikan setelah selesai memeriksaku. "Iya, sensei.."Aku mulai merasakan hal yang tidak enak menjalari hatiku. "Heemm, bisa tolong panggil suami anda..?"

Dan aku berusaha tabah ketika mendengar penjelasan itu. Janinku tidak berkembang! Penyebabnya sendiri belum diketahui secara persis. Karena pada pemeriksaan terakhir dia masih "hidup". Aku harus mengeluarkannya agar tidak meracuni rahimku.Aa menggegam tanganku erat. Kurasakan tubuhku bergetar menahan tangis. Ya Allah. Kutunggu kedatangannya selama 5 tahun lebih.Mengapa dia Kau panggil tanpa sempat kulihat wajah lucunya? Kenapa Kau panggil dia tanpa sempat aku rasakan lembut kulitnya, indah bening matanya, dan tangisan rewelnya. Aa menggegam tanganku lebih erat lagisambil berucap pelan, "Istighfar, Dede..Istighfar.."Ya, seakan mengerti apa yang bergalau di hatiku.

Aku beristighfar dalam hati mencoba menghilangkan rasa penyesalanku atas taqdir Allah. Tidak, aku tidak boleh menyalahkan Allah atas cobaanNya, seru sebuah bagian hatiku. Tetapi kenapa Dia panggil anakku yang sudah begitu lama kunantikan, tanpa memberiku kesempatan untuk jangankan membelainya, bahkan merasakannya untuk lebih lama berdiam dalam perutku? Seru bagian hatiku yang lain. Ya Allah, ampuni aku. Ya Allah, ampuni aku.Akhirnya bagian hatiku yang bersih menyapu bagian hatiku yang kotor. Dan kutemukan diriku dalam keadaan tenang kembali. Ku dengar Aa berucap pelan "Innalillaahi wa inna ilaihi Raaji'uun.." Dan dengan tenang menandatangani formulir operasi buatku.

Empat hari aku di rumah sakit. Aku tak merasakan perubahan yang berarti pada tubuhku. Tapi tidak demikian pada hatiku. Aku merasakan kesendirian ketika kusadari "anakku" tak ada lagi dalam diriku. Aa sendiri tak banyak berbicara tentang masalah itu. Aa tampak berusaha bersikap biasa. Namun aku tahu Aa menanggung kesedihan yang sama seperti yang kurasakan.

Maghrib itu kami berjamaah seperti biasa. Yang tidak biasa hanyalah itu pertama kali kami shalat berjamaahan sejak aku mengungsi di rumah sakit. Pada rakaat yang kedua Aa membaca surat Al Baqoroh dari ayat 153. Dan suara Aa bergetar ketika mencapai: .... Walanabluwannakum bisyayi im minal khaufi wal juu'i wanaqshim minal amwaali wal anfusi watstsamaraat. Wabasyiri shabiriin Alladziina idzaa ashabathum mushibah, qoluu inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun.Ulaika alaihim shalawaatum mir rabbihim warahmah. Wa ulaaika humul muhtadun... ...

(... Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada mu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa mushibah mereka berucap: Innalillaahi wainna ilaihi raaji'unn. mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari RabbNya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ...)

Aku terisak di belakang Aa, mendengar teguran Allah yang lembut itu. Betapaku rasakan Allah langsung menegur sekaligus menghiburku lewat ayat-ayat tersebut. Selesai shalat, seperti biasanya Aa shalat rawatib ba'da maghrib , lalu berdzikir sebentar. Tak lama kemudian membalikkan badannya ke arahku. Aku menatap Aa. Kutemui mata yang cekung dan kurang tidur, karena beberapa hari ini Aa harus menjalani hidup antara rumah, rumah sakit, dan kampus. Kucium punggung tangan Aa seperti biasanya. Aa tersenyum bijak dan mengelus kepalaku dengan tangan kirinya. "Innallaaha ma'ashshabiriin, De.."katanya serak. Aa bukanlah tipe orang yang mudah mengekspresikan emosinya lewat titik air mata. Tapi kali ini, kulihat mata cekung Aa dipenuhi oleh kaca-kaca. Aku mengangguk pelan. Kurasakan mataku memanas lagi, dan kurasakan pandanganku kabur karena genangan air mata. Aa tak melepaskan genggaman tanganku, digenggamnya erat-erat seolah ingin berbagi kekuatan dengan ku.

Ya Allah, jika Engkau masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang Engkau berkati dan rahmati karena kesabaran kami menanggung cobaan, cobaan yang tidak seberat yang dialami saudara-saudara seiman kami yang harus hidup dalam ketakutan, kehilangan harta, bahkan nyawa dalam mempertahankan tanah air Islam, maka bimbinglah kami terus untuk dapat terus menganyam benang-benang kesabaran kami, agar menjadi kuat dan kokh sehingga mampu menanggung cobaan yang lebih berat lagi.(is95)

************

Keterangan: Aa * bahasa sunda artinya sama dengan panggilan Mas(untuk orang Jawa), atau Abang (untuk orang Betawi) Dede * bahasa Sunda, artinya sama dengan adi, jeng (atau apalah panggilan sayang buat istri) Miso * semacam tauco Indonesia terbuat dari beras, kedelai, dan garam Domou arigatou gozaimasu: terimakasih banyak .....san: cara orang Jepang memanggil lawan bicaranya.

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita - kumpulan cerpen kompas

Ketika kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda.
Lelaki itu kamu panggil Ayah John karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan farmasi. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Menyewakan sebuah rumah buatmu dengan seorang pembantu dan seorang sopir, tapi dia selalu menjemputmu dari rumah ke kantor dan mengantarmu dari kantor ke rumah. Sopir hanya bekerja kalau Ayah John sedang ada tugas keluar daerah, sehingga dengan waktu yang demikian panjang, sopir menyambi kerja sebagai tukang ojek.
Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogya, Lombok dan beberapa daerah lainnya di dalam negeri. Keluar, kalian hanya mengunjungi Singapura, Malaysia dan Thailand karena waktu yang sempit. Namun Ayah berjanji akan membawamu ke sebuah negara di Eropa nanti. “Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia,” kata Ayah John kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.
Kamu pun bahagia, setidaknya sampai saat itu. Ayah John memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Ayah John akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Ayah John.”
Di luar rumah dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah ia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Ayah John sempat menikahimu. Untuk menenangkanmu dia hanya berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor selesai. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat peluruh kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Ayah John berdalih mobilnya dipakai teman dan obat itu milik temannya. Kamu tidak percaya dan kalian bertengkar hebat. Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tapi dilakukan beberapa kali. DIa tak berhenti menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.
“Aku tidak tahu apakah itu pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan suami terhadap istrinya. Tapi aku tidak percaya Ayah John melakukan itu.”
Ketika memeriksakan diri ke dokter kandungan, kamu baru menyadari kandunganmu sudah hancur. Ternyata kamu sudah meminum banyak obat peluruh kandungan yang dilarutkan Ayah John dalam minuman kamu, jauh sebelum kamu menemukan sisa obat itu dalam mobilnya. Dokter mengatakan kamu harus dikuret dan dia bertanya apakah kamu sudah menikah.
Kamu mengangguk di tengah kegalauan yang melanda.
“Saya akan memberi rekomendasi untuk dikuret,” kata dokter itu.
Kamu pulang bukan saja dengan kandungan yang hancur, tetapi juga hati yang lebur. Pupus sudah impianmu untuk memiliki anak dari Ayah John. Isi rahimmu dikosongkan sekosong hatimu. Lalu Ayah John pun pergi darimu tanpa pernah mengatakan apa pun. Rumah kontrakan tidak dibayar lagi, pembantu pulang kampung dan supir sepenuhnya bekerja sebagai tukang ojek karena mobil ditarik Ayah John. Bahkan kemudian kamu pun dikeluarkan dari tempatmu berkerja dengan alasan yang tidak kamu pahami dan tanpa pesangon. Ayah John tidak pernah menjawab panggilan teleponmu. Pesan-pesanmu tak pernah ditanggapinya. Semua kemanisan hidup bersama Ayah John berubah menjadi pahit, lebih pahit dari obat yang diam-diam dilarutkan Ayah John dalam minumanmu.
Dalam keputusasaan itu, kamu kembali ingat masih memiliki keluarga. Kamu kembali kepada keluarga hanya untuk membuat hatimu semakin hancur. Bapak dan ibu menerimamu kembali tetapi tidak mau turut campur dalam persoalanmu karena sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Mereka bahkan tidak pernah mau mendengarkan penderitaanmu akibat perlakuan Ayah John karena menganggapmu sudah cukup dewasa menanggungnya sendiri.
Itu kata-kata yang pernah kamu ucapkan ketika kamu pergi dari rumah untuk hidup bersama Ayah John. “Ayah John bukan saja telah membunuh bayiku, tetapi juga membunuh jiwaku.”
Kamu mengucapkan itu dengan air mata yang mengalir di pipi sambil menatap air hujan mengalir di permukaan kaca. Aku memelukmu dari belakang dan mencium pipimu penuh perasaan. Air mata kita menyatu seperti tubuh kita. Ketika pernyatuan itu terjadi, bahkan diriku dan dirimu tak bisa membedakan mana air mataku dan mana air matamu. Keduanya mengalir di pipiku dan di pipimu menjadi air mata kita.
***
Ketika kamu bercerita tentang apa yang kamu lakukan terhadap lelaki itu, aku menangis sendiri di dalam kamar yang minim cahaya. Tidak ada hujan di luar sana, tidak ada kemacetan dan tidak ada kamu di sini. Hanya ada aku, hati yang patah dan air mata.
Dua tahun kalian menjalin hubungan, jauh lebih lama dibandingkan denganku yang baru dua bulan. Dua tahun bukanlah perjalanan cinta terlama yang pernah kamu lewati. Masa tujuh tahun penuh cinta, tapi dua tahun itulah yang paling berkesan sepanjang hidupmu.
Di kamar sama, kita memulai percakapan soal masa lalumu, masa laluku serta masa depan kita. Kamu tidak bisa datang malam ini karena “ingin mengujungi saudara yang sakit”. Aku menelpon sabelum kamu berangkat. Kita berecerita tentang aroma dan lagu, dua hal yang bisa membangkitkan memori ke masa lalu. Aroma dan lagu mengundang kenangan, kita bersepakat soal itu.
Aku pun menyemprotkan aroma lemon yang lembut ke seluruh tubuh agar bisa mengingatkanmu sampai di dalam tidur. Aku ingat aroma tubuhmu saat kita menangis bersama dan kuyakin itulah kenikmatan terbesar dalam hidupku. Kejadian itu lebih kuat terpatri bahkan bila dibandingkan dengan desahan kita di kamar mandi.
Setelah mengucapkan janji untuk tetap mencintaiku, suaramu lenyap dari telinga tetapi tetap melekat di hatiku. Aku tidak pernah menyangka itulah kata cinta terakhir yang kudengar darimu. Malam itu aku membawa kerinduanku ke keramaian, berharap lelah datang dan pulang dengan kantuk yang mengundangmu lebih cepat dalam impianku.
Sampai hari berganti dan kamu tak hadir dalam mimpiku, kabar darimu belum juga datang. Aku harus menghubungimu karena didorong rasa rindu yang tak tertahankan. Panggilan pertama sampai panggilan yang tidak dapat kuingat tak juga mendapat tanggapan dari kamu. Aku mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban. Haruskah kudatangi rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi?
Kamu pernah mengundangku ke rumah dan memperkenalkanku kepada orang tuamu dan ketiga adik lelakimu. Kamu anak perempuan satu-satunya dan sebagai anak sulung orangtuamu mengharapkan kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik. Kamu diharapkan menjadi tulang punggung keluarga bukan tumpuan tulang selangka Ayah John. Itulah kedatanganku yang pertama sekaligus yang terakhir. Kamu melarangku datang lagi karena kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita. “Bagaimana mereka bisa tahu hubungan kita? Kamu menceritakannya? Bukankan kita sudah sepakat akan merahasiakan sampai mereka dan dunia tahu dengan sendirinya?”
“Aku masih ingat dengan kesepakatan itu. Tapi aku tak ingin mereka tahu lebih cepat.”
“Mereka takkan tahu kalau kamu tidak menceritakannya. Keluargamu mengira kita hanya sahabat. Dunia juga mengira kita sepasang sahabat.”
“Aku bisa membohongi perasaanku dengan kata-kata, tapi tidak dengan mataku.”
Aku menyukai kekhawatiranmu itu dan percaya memang karena itulah kamu melarangku ke rumah lagi. Kalau sekarang aku nekat ke rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi, apakah kamu akan marah?
Panggilan kamu datang ketika aku berada dalam kebimbangan. Aku menyambut suaramu dengan gembira, tetapi kemudian kamu membawa kabar duka. Ayah John kena stroke. Ketika aku mendengar itu pertama kali aku malah menduga itulah kabar gembira sesungguhnya. Kemudian kamu mengatakan dengan jujur selama ini kamu berada di rumah sakit untuk merawat Ayah John.
“Mengapa harus kamu? Bukankah sudah ada keluarganya?”
“Ayah John yang mengharapkan aku datang. Kami merawatnya bersama.”
“Kami?
“Aku, istri Ayah John, dan ke empat anaknya.”
Aku masih belum dapat memahami. Bahkan setelah kamu menjelaskan panjang lebar kalian (kamu, Ayah John, istrinya dan anak-anaknya) sudah berdamai dan sepakat melangsungkan pernikahanmu dengan Ayah John. Itu janji yang akan dipenuhi setelah Ayah John benar benar sembuh.
“Ayah John pernah mengucapkan janji yang sama dulu. Tapi dia mengingkarinya…”
“Beda, sekarang janji di depan keluarganya sendiri dan semuanya menerima. Kami sekarang seperti sebuah keluarga.”
Kamu percaya dengan janji dan perubahan yang cepat sehingga suaramu terdengar sangat bahagia ketika mengucapkan itu. Kamu tidak peduli dengan hariku yang terluka sehingga dengan enteng mengatakan hal itu seperti mengabarkan sebuah berita ada film bagus yang main malam ini.
“Kenapa?” aku mulai tidak mampu mengendalikan emosi setelah sekian lama terdiam, “mengapa kamu lakukan ini kepadaku?
“Maaf, sayang. Aku tahu ini membuatmu sakit. Tapi aku harus mengatakannya. Aku menginginkan seorang anak dari rahimku sendiri.”
Kita pernah sepakat mengadopsi bebrapa anak saat kita hidup bersama. Masihkan kamu ingat dengan semua itu?
Suaramu lalu lenyap dari telingaku dan luka hatiku semakin menganga. Aku tidak percaya kamu melakukan semua ini kepadaku, apa pun alasannya. Kamu membunuh jiwaku dengan membuka kembali cinta lama yang ingin kamu kubur di dasar hatimu paling dalam. Jiwaku baru saja mati tetapi jiwamu baru hidup kembali.
Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil terus menangis. Aku ingin kamu berada di sini dan kita menangis bersama sampai air mata kita menyatu seperti dulu.

FAKTA BENGKULU BUMI RAFFLESIA

1. Bunga Rafflesia pertama kali ditemukan di Bengkulu, ditemukan pertama kali oleh Sir Stamford Raffles dan Dr Joseph Arnold pada tahun 1818 di desa Pulo Lebbar (Kec. Pino Raya) 30 km dari Kota Manna Kab. Bengkulu Selatan.



2. Hasil pencarian di search engine (google) dengan key word "bumi rafflesia", "the land of rafflesia", adalah Bengkulu.



3. Bengkulu miliki 4 jenis Rafflesia.



4. Nama, gambar, miniatur Rafflesia dapat kita jumpai dengan mudah di Bengkulu .



5. Bunga Rafflesia paling produktif mekar setiap bulan sepanjang tahun di Bengkulu (Data KPPL Januari-Mei 2012)



So ... masih ragukah kita menyebut "Bengkulu BUMI RAFFLESIA" ??? BENGKULU adalah "The Land of Rafflesia" yang sebenarnya !

5 fakta tentang kota Palembang

Halo semuanya, apa kabar?
Di kesempatan kali ini, saya mau berbagi tentang 5 fakta tentang kota Palembang, yang mungkin saja belum kalian tahu.
Simak info berikut. Semoga berguna!
5 fakta tentang kota Palembang: 
1. Dulu pernah ada 108 sungai membagi kota Palembang. Karena kondisi ini, Orang-orang Eropa pernah menyebut  Palembang sebagai THE VENICE DARI TIMUR.

2. Sungai Musi, sungai utama di Palembang, adalah sungai terpanjang di Sumatera yang sumber airnya  berasal dari Kepahiang, Bengkulu

3. Jembatan Ampera, jembatan penghubung Seberang ulu dan Seberang ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi, merupakan satu-satunya jembatan di Indonesia dengan mekanisme terbuka dan tertutup. Tapi sejak tahun 1970, tidak bekerja lagi.

4. Masjid Agung, yang terletak di Kecamatan Ilir 19, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di persimpangan antara Jalan Merdeka dan Sudirman Street, pusat kota Palembang, merupakan masjid terbesar di Indonesia ketika dibangun pertama kali pada tahun 1738.

5. Benteng Kuto Besak, merupakan ciri khas kota Palembang, yang mempunyai panjang 188,75 meter, lebar dan tinggi dari 183,75 meter 9,99 meter (30 kaki) tebal dan 1,99 meter (6 kaki). Jadi, tak heran dalam perang pertama Palembang di tahun 1819, ketika diserang oleh meriam korvet Belanda, tak ada peluru yang bisa menembus dinding atau pintu.

cerpen DITENGAH PESTA karya Haya Aliya Zaki

Di Tengah Pesta



Cerpen ini pernah dimuat di majalah Story.




Aku menatap  kartu undangan pesta ulang tahun nan manis di atas meja di kamarku. Pesta ulang tahun Anggun. Warnanya putih metalik, dihiasi pita emas, dan taburan glitter warna-warni. Harumnya … hmmm, seperti harum permen karet kesukaanku. Kartu undangan yang mewah. Sepintas kulihat kalimat di bagian bawah kartu.
Garden Party. Dress Code: Romantic White. 


       Wow, kujamin, pesta ulang tahun ke-17 Anggun kali ini tak kalah megah dan meriah dibandingkan pesta ulang tahunnya yang  sebelumnya. 
Anggun, temanku sekolahku, seorang gadis berkulit putih mulus bak pualam dan berwajah  cantik seperti manekin yang kerap dipajang  butik-butik  pakaian mahal dan bermerek. Wajah dan postur tinggi semampainya mewarisi gen ibunya yang keturunan Jerman. Sementara, tutur katanya yang lembut berasal dari didikan ayahnya yang asli Yogya. Konon katanya, ayah Anggun masih ada hubungan saudara dengan sultan  keraton Yogya. Jadi, Anggun  memiliki darah biru alias keturunan bangsawan. Ck ck ck!   
Anggun putri  tunggal  dari lingkungan keluarga berada. Ayahnya pemilik sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bagian penyediaan komputer dan alat-alat perkantoran. Ibunya aktif dalam pengelolaan yayasan sosial yang mereka miliki. 
Kadang-kadang aku iri dengan temanku itu. Tak terhitung jumlah cowok yang mengejar-ngejar dirinya. Dari mulai Sahat, ketua OSIS yang ganteng; Bram, redaktur buletin sekolah yang pintar; Aldi, sang pemain piano klasik yang andal; sampai Vino, pemegang medali perak olimpiade matematika yang pernah diadakan di Bulgaria. Kurang apa mereka coba? Tapi, tak ada satu pun cinta mereka yang diterima Anggun. Cowok-cowok itu harus mundur teratur karena ditolak. Anggun selalu berkata kalau dia belum ingin pacaran karena ingin menamatkan sekolahnya dulu, lalu melanjutkan kuliah jurusan Ekonomi Akuntansi di sebuah universitas ternama di Jakarta, terus mengambil gelar Master of Finance di Australia. Mungkin alasannya klise bagi orang-orang, tapi tidak bagi Anggun. Dia benar-benar serius mengejar cita-cita. Belajar keras, rajin ikut les privat ini itu. Di kelas, Anggun selalu menduduki peringkat kedua (hohoho, kalau mau tahu, yang langganan peringkat pertama adalah aku!). Di mataku, Anggun adalah cewek yang ambisius. Dengar-dengar, ayahnya akan menyerahkan perusahaan itu kepadanya suatu saat kelak.
Anggun memang cantik, pintar, kaya raya, dan bertutur  lembut. Namun menurutku ya, nilai kepribadiannya agak  di bawah rata-rata. Habis, dia sering merendahkan orang lain, termasuk aku. Tak jarang aku dijadikan bahan olok-oloknya. Dia mengejek sepatuku yang butut, jam tanganku yang kuno, tasku yang belel, atau seragam sekolahku yang ditambal.
“Wah, wah … Teman-Teman, lihat, lihat, bajunya Tita cuakep beneeer ... tambal sulamnya itu lho, ndak kuaaat …!” demikian sindir  Anggun sambil tertawa. Teman-teman satu gengnya ikut cekikikan.  Masalah seragam, sebenarnya aku ingin membeli yang baru. Tapi kupikir-pikir, tahun depan aku tamat.  Tinggal sebentar lagi, kupakai saja yang ‘tambal sulam’ ini, toh tak masalah. Kalau mendengar ejekan Anggun, aku cuek saja. Aku tak pernah mau ambil peduli. Lama-lama dia pasti capek sendiri. Meski begitu, Anggun tak pernah bisa memusuhi aku. Bahkan terkadang kami bisa jadi teman akrab. Soalnya, dia sering merengek minta diajari pelajaran fisika atau kimia padaku. Nilaiku di kedua pelajaran itu hampir selalu sempurna. Salah dia juga, sudah jelas senang pelajaran ekonomi, eh malah masuk jurusan IPA. Nah, sama siapa lagi dia minta diajari kalau tidak sama aku? Sepertinya Anggun mengakui kalau otakku memang genius. Cukup belajar sebentar (sambil menikmati musik), semua soal-soal sulit, dapat terpecahkan olehku. Makanya, beasiswa dari sekolah pun dengan gampang jatuh ke pangkuanku. Hahaha …!
                 “Mamaaa …! Masak apa, Maaa ...?” 
           Aih, suara cempreng itu! Pasti Bang Faisal. Kayaknya  baru pulang kuliah. Lebih baik aku pergi. Aku ada janji dengan Pierre, sahabatku. Pierre itu sahabat sekaligus tetanggaku. Kami berteman sejak kecil. Dia cerdas, baik hati, dan … tampan. Ah, sudahlah.  A … aku malu menceritakannya sekarang …. A ... aku harus segera pergi. Jangan sampai dia terlalu lama menunggu.
***
            Aku suka warna putih. Warna putih melambangkan kepolosan dan kesucian. Akhir-akhir ini, aku selalu memakai pakaian warna putih. Dan, di pesta ulang tahun Anggun nanti, aku sudah menyiapkan gaun putih yang sederhana, namun menawan. Hatiku sedikit berbunga-bunga. Aku yakin, kakak kelas kami, Kak Aura, diundang juga oleh Anggun. Mudah-mudahan Kak Aura mengajak sepupunya yang ganteng itu. Namanya Dylan. Yah, gantengnya beda-beda  tipislah dengan sahabat setiaku, Pierre.



            Anggun memang selalu membuat sensasi. Tiap tahun dia memilih tema pesta yang berbeda. Ulang tahunnya pernah dirayakan di restoran eksklusif, vila asri, dan pantai.  Semua seru! Tahun lalu, Anggun merayakannya di sebuah ballroom hotel terkemuka di kota ini. Alamak, kue ulang tahunnya …tinggi sekali! Ada juga pahatan es dengan inisial A berukuran besar di beberapa pojok ruangan. Tamu yang hadir bukan hanya teman-teman kami, tapi juga dari kalangan pejabat dan artis. Pasti biaya pesta itu sangat mahal. Apalagi, Anggun mengundang grup musik Hijau Daun  yang sedang naik daun. Aku menikmati pesta itu. Bercanda bersama teman-teman, menikmati makanan enak, dan menari dengan iringan musik yang asyik … wuih … rasanya aku tak mau pulang! Dalam hati, meski Anggun kadang-kadang rada menyebalkan, aku dan teman-teman sependapat kalau pesta ulang tahun Anggun lebih kami nanti daripada pesta perpisahan sekolah. Hahaha …!
Dan, tahun ini, Anggun memilih tema pesta kebun.  Benar-benar nekat dia! Musim hujan begini malah mengadakan pesta kebun. Ayah dan ibunya pasti sudah memperingatkan. Tapi, bukan Anggun namanya kalau keinginannya tidak terpenuhi. Dengar-dengar, kedua orangtuanya sudah menyewa pawang hujan segala. Ya, jangan sampai hujan merusak suasana pesta nanti.    
            Aku meraba wajahku yang pucat, juga bagian bawah mataku. Duh, sulit sekali rasanya menghilangkan lingkaran hitam ini. Semakin hari rasanya semakin kelam saja. Aku tidak melihatnya di cermin, tapi aku bisa merasakannya. Hm, sebenarnya masalah kecil ini tidak perlu mengganggu pikiranku. Toh, teman-temanku juga tak akan mempermasalahkannya.
***
            Pesta dimulai pukul tujuh malam. Aku tak ingin terlambat. Aku sudah berdandan sebaik mungkin. Pierre yang mengantarku. Abangku Faisal, si super-usil itu, pasti jam karet lagi. Lebih baik aku berangkat duluan bersama Pierre.
            Pierre menolak masuk. Dia tidak begitu suka pesta. Pierre  mengantarku hanya sampai  di pintu gerbang rumah Anggun yang besar dan ramah. Pintu gerbang itu terbuka lebar, seolah mengajak masuk siapa saja yang ada di hadapannya. Berbagai karangan bunga ucapan selamat ulang tahun berjejer di sepanjang area pesta. Beberapa orang satpam sibuk mengatur parkir mobil-mobil berharga selangit.
            Aku melangkah menuju taman belakang rumah Anggun yang luas. Tapak kakiku terasa seringan kapas. Gaun putihku melambai disapa bayu. Wow, ini baru pesta kebun! pekik hatiku girang. Kami disambut dengan dekorasi balon, bunga-bunga segar, dan ranting-ranting kering sebagai hiasan.  Indahnya obor-obor taman dan lampion aneka warna digantung di beberapa sudut pesta. Lampu-lampu taman bersinar temaram, memberikan nuansa romantis. Di dalam kolam renang, lampu taman juga menyala, sehingga menampilkan bayang-bayang air.
          Para musisi di panggung menyanyikan lagu-lagu easy listening jazz. Kami terhanyut. Tamu-tamu tampaknya kompak mematuhi dress code. Mereka memakai busana putih dengan motif dan bahan yang beragam. Aku berjalan mengelilingi taman sambil tersenyum pada beberapa teman. Seperti biasa, teman-temanku tidak akan bertanya kenapa aku datang sendirian karena mereka sudah maklum kalau Pierre tidak pernah mau bergabung di  pesta. Sedangkan Bang Faisal, kalian tahu sendiri kan. Kalau menunggu dia, bisa-bisa aku datang saat pesta sudah bubar.
 Au, itu dia Dylan! Dia ganteng sekali dengan kemeja abu-abu tua dibalut tuksedo putih. Aku mendekatinya. Ck ck ck, cowok seganteng ini ternyata hobi makan juga. Mulutnya sibuk mengunyah mashed potato, sedangkan di tangan kanannya tergenggam sepiring  fruit salad.  Di tangan kirinya, sudah menanti sepotong chocolate cake. Euuuw … perutku mendadak kenyang melihatnya!
            “Oh my God, Dylan! Kamu jangan malu-maluin Kakak dong! Ganteng-ganteng, kok, rakus!” omel Kak Aura. 
            Dylan tersedak, wajahnya memerah seketika. Aku tertawa geli. Wah, wah, wah, sepertinya dia harus kucoret dalam daftar ‘cowok favorit’ di agendaku!
Aku melambaikan tangan pada  Lili, Friska, dan Paul di kejauhan. Mereka duduk di kursi bersarung putih dengan ikatan pita di belakangnya. Kursi-kursi itu mengelilingi meja bundar. Di tengah keramaian aku menyapa mereka, setengah berteriak sebenarnya. Namun, suaraku seperti lenyap ditelan angin.
          Aha! Dan itu dia si ratu pesta! Anggun mengenakan gaun selutut berwarna putih gading, dengan bahu terbuka. Gaun berbahan halus, mungkin sejenis sifon, aku tidak begitu yakin. Kakinya yang jenjang, sangat jelas terlihat. Penampilannya malam itu begitu memukau. Anggun cantik laksana boneka Barbie! Tiara mungil  –sungguh-sungguh berkilau- bertahta di rambutnya. Tamu-tamu mengucapkan selamat, memberi pelukan hangat dan akrab. Lagu Setahun Bertambah Usiamu mengalun syahdu. Sayang, Anggun menyerahkan potongan kue ulang tahun pertama kepada orangtuanya. Aku jamin, malam itu para cowok ramai-ramai patah hati. Malang nian, mereka cuma bisa menatap Anggun dengan mata tak berkedip dan mulut menganga …hahaha!  
        “Betul-betul pesta yang glamor!” Parlin terkagum-kagum. “Tapi, coba kalian usulkan pada Anggun, bagaimana kalau tahun depan pesta ulang tahunnya dirayakan bersama anak-anak tak mampu?” sambungnya. Parlin memang temanku yang berhati mulia. Hatinya gampang tersentuh, apalagi bila melihat orang yang kesusahan.
       Meta mengangguk-angguk. “Bener banget  yang lo bilang. Keluarga   Anggun, kan, punya yayasan sosial. Masa mereka enggak pernah mengajak anaknya untuk ikut terlibat? Pesta hura-hura kayak gini memang keren. Tapi, ngerayainnya bersama anak-anak nggak mampu, pasti beda rasanya,” komentarnya bijak. Aku setuju dengan pendapat kedua temanku itu.          
“Ya amplop … lusa, kan, kita ujian fisika!” Tiba-tiba Rudi, si kemayu, nyeletuk. “Bisa-bisanya, ya, malam ini kita seneng-seneng! Ntar lusa baru pada nyahok melototin soal-soal dari Pak Silalahi!” ujar Rudi. Syal putih di lehernya dikibas-kibaskan.
Kami semua tertawa. Rudi, teman kami yang satu ini memang selalu membuat suasana ceria. Di kelas, tubuhnya paling bongsor, tapi gayanya lemah gemulai. Ingin sekali aku mencubit gemas pipinya.
“Kalau ngomongin fisika, aku jadi ingat  Tita …,”  ucap Anggun yang tahu-tahu  sudah ada di belakang kami. Dia memandang Rudi dengan tatapan sendu. “Tita yang selalu mengajari aku fisika .…”
Semua langsung terdiam. Wajah mereka mendadak  layu. Hatiku jadi tak enak.
 “Ya, kecelakaan sepeda motor yang tragis. Enam bulan berlalu, tapi bayangan Tita masih lekat dalam ingatanku,” gumam Parlin sedih.
“Semua sudah takdir. Sepeda motor yang dikendarai Pierre dan Tita ditabrak truk. Mereka tidak sempat menghindar. Kita kehilangan dua sahabat sekaligus ….” Meta meneteskan air mata.
Rudi memencet hidungnya yang berair dengan tisu, lalu hidungnya mengeluarkan suara ‘peeet’ yang panjang. “Menurutku, Pierre dan Tita  adalah soulmate. Pierre sudah lama naksir  Tita, meskipun Tita belum juga ngasih jawaban ‘iya’. Mereka itu pasangan yang serasi …,” sambung Rudi dengan suara tercekat.
“Oya, Bang Faisal mana, ya? Aku mengundangnya, tapi kok belum muncul?” desah Anggun, hampir tak terdengar.
Tuhan, aku tak sanggup menyaksikan pemandangan ini. Kristal di mataku mengapung. Aku masih rindu teman-temanku, tapi aku tak ingin melihat wajah mereka terluka. Sebaiknya aku segera meninggalkan pesta ulang tahun Anggun. Kakiku tak menjejak tanah sehingga tubuhku bisa melayang cepat. Angin malam membasuh dingin wajahku. Di halaman depan rumah Anggun, aku berpapasan dengan Bang Faisal yang berjalan tergesa. Ah, abangku ini memang selalu ngaret. Pesta sudah berlangsung dua jam, dia baru tiba. Bang, sekarang abang yang menempati kamarku. Rawat kamarku baik-baik ya …, batinku pilu.
 Beberapa malaikat kecil bersayap telah menantiku di pintu gerbang. Di tengah-tengah mereka, ada Pierre, dengan tubuh menguar cahaya. Dia  menatapku dengan senyum teduhnya, meski wajahnya seputih kertas. Aku menyongsong Pierre.  Bersama kami melangkah menuju tempat peristirahatan terakhir kami .… [] Haya Aliya Zaki